{"id":1139,"date":"2024-08-25T20:31:55","date_gmt":"2024-08-25T13:31:55","guid":{"rendered":"https:\/\/kajianliterasi.org\/?p=1139"},"modified":"2024-08-25T20:32:26","modified_gmt":"2024-08-25T13:32:26","slug":"mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/","title":{"rendered":"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia?"},"content":{"rendered":"<figure class=\"wp-block-post-featured-image\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1920\" height=\"1280\" src=\"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg\" class=\"attachment-post-thumbnail size-post-thumbnail wp-post-image\" alt=\"\" style=\"object-fit:cover;\" srcset=\"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg 1920w, http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu-300x200.jpg 300w, http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu-1024x683.jpg 1024w, http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu-768x512.jpg 768w, http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu-1536x1024.jpg 1536w, http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu-18x12.jpg 18w, http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu-500x333.jpg 500w\" sizes=\"(max-width: 1920px) 100vw, 1920px\" \/><\/figure>\n\n\n<p>Lewat lema \u2018kebijakan\u2019, bahasa Indonesia menyamakan \u2018policy\u2019 dengan kebijaksanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, kalau kita bandingkan dengan bahasa lain, makna \u2018policy\u2019 lekat dengan \u2018politics\u2019 (politik).<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya, \u2018policy\u2019 dalam bahasa Melayu adalah \u2018polisi\u2019, dalam bahasa Belanda \u2018politiek\u2019, bahasa Prancis \u2018politique\u2019, dan dalam bahasa Arab \u2018siyasah\u2019. Bahkan, kata \u2018policy\u2019 tidak berbeda secara makna dengan kata \u2018politik\u2019 dalam bahasa Denmark \u2018politik\u2019 dan bahasa Italia \u2018politica\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Sangat berbeda dengan yang terjadi dalam bahasa nasional kita. Saya mencari tahu mengapa kata ini dipilih lewat riset linguistik sejarah semantik kata \u2018kebijakan\u2019.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kebijakan dan makna terkait<\/h2>\n\n\n\n<p>Kata \u2018kebijakan\u2019 merupakan kata benda dari akar kata \u2018bijak\u2019. Imbuhan ke- dan -an berfungsi untuk membuat kata benda dari bijak yang menggambarkan kondisi yang berhubungan dengan akar kata tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menghubungkan kata sifat \u2018<a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/bijak\">bijak<\/a>\u2019 dengan dua makna, yaitu selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir; dan pandai bercakap-cakap; petah lidah.<\/p>\n\n\n\n<p>KBBI lalu mendefinisikan kata&nbsp;<a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/kebijakan\">kebijakan<\/a>&nbsp;sebagai dua hal. Yang pertama kepandaian, kemahiran, dan kebijaksanaan. Dan yang kedua rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tentang pemerintahan, organisasi, dan sebagainya); pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran; dan garis haluan.<\/p>\n\n\n\n<p>Konstruksi kata \u2018kebijakan\u2019 ini bisa dikaitkan dengan \u2018kebijaksanaan\u2019, yang merupakan kata benda dari \u2018bijaksana\u2019. Kata &#8216;bijak\u2019 dan \u2018bijaksana\u2019 memiliki makna yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun,&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.kemhan.go.id\/badiklat\/2016\/04\/11\/perbedaan-kata-kebijakan-dan-kebijaksanaan-serta-mencolok-atau-menyolok.html\">kebijaksanaan lebih universal<\/a>&nbsp;daripada kebijakan. Kebijakan memiliki asosiasi spesifik yang merujuk pada \u2018policy\u2019, dan muncul pada wacana politis.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata lain yang&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Anagram\">anagram<\/a>&nbsp;dan&nbsp;<a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Homophone\">homofon<\/a>&nbsp;dengan kebijakan adalah kebajikan. Akar kata \u2018bajik\u2019 berarti baik, sehingga&nbsp;<a href=\"https:\/\/kbbi.kemdikbud.go.id\/entri\/kebajikan\">kebajikan<\/a>&nbsp;berarti sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, dan sebagainya) dan perbuatan baik.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski \u2018kebajikan\u2019 tidak digunakan dalam konteks politik, anagram dan homofon ini berpotensi menciptakan bayangan makna sehingga kebijakan bisa diasosiasikan dengan kebajikan dan kebijaksanaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bayangan makna ini bisa meletakkan \u2018kebijakan\u2019 pada posisi baik yang universal dan tidak bermakna politis (apolitis).<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian, \u2018kebijakan\u2019 menjadi tidak dapat ditentang, karena siapa yang bisa melawan kebijaksanaan atau kebaikan?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kemunculan kata kebijakan<\/h2>\n\n\n\n<p>Tidak mudah untuk menelusuri awal mula kemunculan sebuah kata. Ada dua sumber yang bisa digunakan, yakni kamus dan penggunaan sehari-hari yang terdokumentasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia dipengaruhi oleh Bahasa Melayu, Bahasa Jawa, Bahasa Belanda, Bahasa Arab, dan bahasa asing lainnya termasuk Bahasa Inggris. Saya melakukan studi bahasa pada kamus monobahasa maupun dwibahasa dalam bahasa di atas yang diterbitkan dari tahun 1901, 1916, 1920, 1953, 1970, 1982, 1988, 2004 hingga kamus digital tahun ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada awal 1900, kata \u2018kebijakan\u2019 tidak ada dalam&nbsp;<a href=\"https:\/\/books.google.co.id\/books\/about\/A_Malay_English_Dictionary.html?id=TFkOAQAAMAAJ&amp;redir_esc=y\">kamus Bahasa Melayu<\/a>, tapi ada kata \u2018bijak\u2019. Dalam kamus tersebut, \u2018policy\u2019 diterjemahkan menjadi peraturan.&nbsp;<a href=\"https:\/\/openlibrary.org\/works\/OL10709469W\/English_Javanese_vocabulary\">Kamus Bahasa Jawa 1920<\/a>&nbsp;mencatat kata \u2018wicaksana\u2019, yang kemudian diadopsi menjadi bijaksana dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada Abad ke-15 dan ke-16, \u2018policy\u2019 juga disebut sebagai&nbsp;<a href=\"https:\/\/journals.sagepub.com\/doi\/10.1177\/0002716205276734\"><em>political sagacity<\/em><\/a>&nbsp;dalam bahasa Inggris, yang artinya kecerdasan politis.<\/p>\n\n\n\n<p>Istilah \u2018politics\u2019 dan \u2018political strategies\u2019 muncul beberapa abad setelah itu. Istilah ini muncul dalam&nbsp;<a href=\"http:\/\/pidato.net\/1101_pjmsukarno-1\">pidato Presiden Sukarno<\/a>&nbsp;setelah Indonesia merdeka untuk mengkritik imperialisme.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa pemerintahan Sukarno (1945\u20131966), kata \u2018kebijaksanaan\u2019 sangat jarang ditemui di dokumen kenegaraan. Setelah mencermati dokumen kebijakan yang sudah didigitalisasi, kata \u2018kebijaksanaan\u2019 muncul dua kali di Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) No. II\/MPRS\/1960.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata \u2018amanat\u2019 dan \u2018manifesto\u2019 lebih sering digunakan pada masa Orde Lama, misalnya amanat presiden dan manifesto politik. Kata \u2018<a href=\"https:\/\/www.tandfonline.com\/doi\/full\/10.1080\/09540253.2020.1802407\">amanat<\/a>\u2019 merupakan transliterasi dari bahasa Arab yang berarti tanggung jawab kepada Tuhan. Sedangkan &#8216;manifesto\u2019 adalah&nbsp;<a href=\"https:\/\/books.google.co.id\/books?id=WM3_ulRJFlkC&amp;printsec=copyright&amp;hl=id#v=onepage&amp;q&amp;f=false\">kata yang sudah dihapus selama masa standardisasi<\/a>&nbsp;dan netralisasi bahasa Indonesia pada zaman Orde Baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa Orde Baru, kata kebijaksanaan dan kebijakan lebih sering muncul untuk merujuk makna \u2018policy\u2019.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski \u2018policy\u2019 konsisten diterjemahkan sebagai \u2018kebijakan\u2019, ada dua pengecualian, yakni pada \u201cPolitik Etis\u201d dan \u201cPolitik Luar Negeri\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-politik-etis-tujuan-tokoh-isi-dampak-balas-budi-gao6\">Politik Etis<\/a>&nbsp;merupakan terjemahan dari bahasa Belanda \u2018Ethische Politiek\u2019 yang seharusnya &#8211; jika ingin konsisten &#8211; diterjemahkan menjadi Kebijakan Etis.<\/p>\n\n\n\n<p>Begitu pula halnya dengan&nbsp;<a href=\"https:\/\/tirto.id\/apa-definisi-prinsip-tujuan-politik-luar-negeri-indonesia-gd5u\">Politik Luar Negeri<\/a>&nbsp;adalah terjemahan dari Foreign Policy.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini semakin menegaskan bahwa penerjemahan kata \u2018policy\u2019 tidak pernah netral.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Membongkar \u2018kebijakan\u2019<\/h2>\n\n\n\n<p>\u2018Kebijakan\u2019 pada dasarnya memiliki sifat apolitis, tapi \u2018policy\u2019 jelas-jelas melibatkan proses politik; menempelkan kedua kata ini menjadi tidak masuk akal.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau mungkinkah pemilihan kata \u2018kebijakan\u2019 menjadi tabir untuk menutupi proses politis yang terjadi?<\/p>\n\n\n\n<p>Sosiolog Ariel Heryanto mengemukakan bahwa bahasa Indonesia lebih merefleksikan&nbsp;<a href=\"https:\/\/openresearch-repository.anu.edu.au\/bitstream\/1885\/145809\/1\/PL-D86.pdf\">realitas politis alih-alih realitas linguistik<\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p>Standardisasi bahasa yang ketat dilakukan tidak semata-mata untuk estetika kebahasaan, tapi untuk&nbsp;<a href=\"https:\/\/books.google.co.id\/books?id=XNpEx2_9QV8C&amp;printsec=frontcover#v=onepage&amp;q&amp;f=false\">alat kepentingan kekuasaan<\/a>. Bahasa bukanlah kacamata netral untuk mengenali realitas, tapi alat untuk mengkonstruksi realitas.<\/p>\n\n\n\n<p>Seiring dengan perkembangan Indonesia yang semakin demokratis, banyak pihak mempertanyakan&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/baca\/polhuk\/2021\/01\/04\/pelajaran-dari-kebijakan-yang-tidak-bijak\/\">kebijakan yang tidak bijak<\/a>. Kata \u2018kebijakan\u2019 perlu kita tinjau kembali untuk memisahkan makna kebijaksanaan dan kebajikan dari \u2018policy\u2019.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lewat lema \u2018kebijakan\u2019, bahasa Indonesia menyamakan \u2018policy\u2019 dengan kebijaksanaan. Padahal, kalau kita bandingkan dengan bahasa lain, makna \u2018policy\u2019 lekat dengan \u2018politics\u2019 (politik). Misalnya, \u2018policy\u2019 dalam bahasa Melayu adalah \u2018polisi\u2019, dalam bahasa Belanda \u2018politiek\u2019, bahasa Prancis \u2018politique\u2019, dan dalam bahasa Arab \u2018siyasah\u2019. Bahkan, kata \u2018policy\u2019 tidak berbeda secara makna dengan kata \u2018politik\u2019 dalam bahasa Denmark \u2018politik\u2019 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1140,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[12,8],"tags":[],"class_list":["post-1139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-konferensi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia? - Pusat Kajian Literasi UNNES<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia? - Pusat Kajian Literasi UNNES\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lewat lema \u2018kebijakan\u2019, bahasa Indonesia menyamakan \u2018policy\u2019 dengan kebijaksanaan. Padahal, kalau kita bandingkan dengan bahasa lain, makna \u2018policy\u2019 lekat dengan \u2018politics\u2019 (politik). Misalnya, \u2018policy\u2019 dalam bahasa Melayu adalah \u2018polisi\u2019, dalam bahasa Belanda \u2018politiek\u2019, bahasa Prancis \u2018politique\u2019, dan dalam bahasa Arab \u2018siyasah\u2019. Bahkan, kata \u2018policy\u2019 tidak berbeda secara makna dengan kata \u2018politik\u2019 dalam bahasa Denmark \u2018politik\u2019 [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Pusat Kajian Literasi UNNES\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-08-25T13:31:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2024-08-25T13:32:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Super Administrator\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Super Administrator\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Super Administrator\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7ecd5f2ebfa01b11804c94d24ae95585\"},\"headline\":\"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia?\",\"datePublished\":\"2024-08-25T13:31:55+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-25T13:32:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/\"},\"wordCount\":760,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/menlu.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Dan Berita\",\"Seminar Dan Konferensi\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/\",\"url\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/\",\"name\":\"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia? - Pusat Kajian Literasi UNNES\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/menlu.jpg\",\"datePublished\":\"2024-08-25T13:31:55+00:00\",\"dateModified\":\"2024-08-25T13:32:26+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#primaryimage\",\"url\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/menlu.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/menlu.jpg\",\"width\":1920,\"height\":1280},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#website\",\"url\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/\",\"name\":\"Pusat Kajian Literasi UNNES\",\"description\":\"Mari Bersama Tingkatkan Budaya Literasi\",\"publisher\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#organization\",\"name\":\"Pusat Kajian Literasi UNNES\",\"url\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/logo-lcunnes.png\",\"contentUrl\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2021\\\/06\\\/logo-lcunnes.png\",\"width\":7865,\"height\":1550,\"caption\":\"Pusat Kajian Literasi UNNES\"},\"image\":{\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/7ecd5f2ebfa01b11804c94d24ae95585\",\"name\":\"Super Administrator\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3693d2bff07145d18650ab665c920d0cc31c2a47742360e377b55966ced5d7bc?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3693d2bff07145d18650ab665c920d0cc31c2a47742360e377b55966ced5d7bc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/3693d2bff07145d18650ab665c920d0cc31c2a47742360e377b55966ced5d7bc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Super Administrator\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/literasi.unnes.ac.id\"],\"url\":\"http:\\\/\\\/kajianliterasi.org\\\/en\\\/author\\\/literasiunnes2020\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia? - Pusat Kajian Literasi UNNES","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia? - Pusat Kajian Literasi UNNES","og_description":"Lewat lema \u2018kebijakan\u2019, bahasa Indonesia menyamakan \u2018policy\u2019 dengan kebijaksanaan. Padahal, kalau kita bandingkan dengan bahasa lain, makna \u2018policy\u2019 lekat dengan \u2018politics\u2019 (politik). Misalnya, \u2018policy\u2019 dalam bahasa Melayu adalah \u2018polisi\u2019, dalam bahasa Belanda \u2018politiek\u2019, bahasa Prancis \u2018politique\u2019, dan dalam bahasa Arab \u2018siyasah\u2019. Bahkan, kata \u2018policy\u2019 tidak berbeda secara makna dengan kata \u2018politik\u2019 dalam bahasa Denmark \u2018politik\u2019 [&hellip;]","og_url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/","og_site_name":"Pusat Kajian Literasi UNNES","article_published_time":"2024-08-25T13:31:55+00:00","article_modified_time":"2024-08-25T13:32:26+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1280,"url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Super Administrator","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Super Administrator","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#article","isPartOf":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/"},"author":{"name":"Super Administrator","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#\/schema\/person\/7ecd5f2ebfa01b11804c94d24ae95585"},"headline":"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia?","datePublished":"2024-08-25T13:31:55+00:00","dateModified":"2024-08-25T13:32:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/"},"wordCount":760,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#organization"},"image":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg","articleSection":["Artikel Dan Berita","Seminar Dan Konferensi"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/","url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/","name":"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia? - Pusat Kajian Literasi UNNES","isPartOf":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg","datePublished":"2024-08-25T13:31:55+00:00","dateModified":"2024-08-25T13:32:26+00:00","breadcrumb":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#primaryimage","url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg","contentUrl":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/menlu.jpg","width":1920,"height":1280},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/mengapa-policy-dimaknai-sebagai-kebijakan-dalam-bahasa-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/kajianliterasi.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengapa \u2018Policy\u2019 Dimaknai Sebagai \u2018Kebijakan\u2019 Dalam Bahasa\u00a0Indonesia?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#website","url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/","name":"Pusat Kajian Literasi UNNES","description":"Mari Bersama Tingkatkan Budaya Literasi","publisher":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"http:\/\/kajianliterasi.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#organization","name":"Pusat Kajian Literasi UNNES","url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/logo-lcunnes.png","contentUrl":"http:\/\/kajianliterasi.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/logo-lcunnes.png","width":7865,"height":1550,"caption":"Pusat Kajian Literasi UNNES"},"image":{"@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"http:\/\/kajianliterasi.org\/#\/schema\/person\/7ecd5f2ebfa01b11804c94d24ae95585","name":"Super Administrator","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3693d2bff07145d18650ab665c920d0cc31c2a47742360e377b55966ced5d7bc?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3693d2bff07145d18650ab665c920d0cc31c2a47742360e377b55966ced5d7bc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/3693d2bff07145d18650ab665c920d0cc31c2a47742360e377b55966ced5d7bc?s=96&d=mm&r=g","caption":"Super Administrator"},"sameAs":["https:\/\/literasi.unnes.ac.id"],"url":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/author\/literasiunnes2020\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1139"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1139\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1141,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1139\/revisions\/1141"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1140"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/kajianliterasi.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}